Latest Entries »

TKS yang mengelembung

Pemkot perlu juga memperhatikan dan mempertimbangan tentang keberadaan Tenaga Suka Rela yang bekerja disetiap instansi dipemkot kita, kita sebutkan salah satu instansi misalnya di damkar, sat pol pp, atau dinas perhubungan.

Dari tiga instansi teknis tersebut sudah bisa kita menganalisa berapa banyak anggaran daerah yqng harus mengalir untuk pekerja yang tidak terlatih dan terdidik dipekerjakan untuk melayani pekerjaan yang sangat teknis, dengan biaya yang cukup besar untuk itu.

PENDIDIKAN “SEKARANG” dan “MASA DEPAN NEGERI”

Ade Saputra.S.Pd.,M.M. Guru SMP negeri 1 Sungai Penuh
To say is easy, to do is difficult, to understand is more difficult, but to make one understand is the mostdifficult

Berkata itu mudah, bekerja itu sulit, mengerti itu sulit, tetapi membuat seseorang mengerti adalah yang paling tersulit”.

Dunia pendidikan kita di negeri ini memang bagus. Tetapi ukuran itu mungkin hanya untuk klaim kepada diri sendiri saja, tidak untuk membandingkan dengan negeri lain yang menurut standar nasional bagus. Namun bila dibandingkan dengan ukuran negeri lain mungkin kita harus antri dulu untuk masuk nominasi kategori bagus. Namun demikian, peluang untuk mengejar ketertinggalan masih terbuka lebar. Melalui perbaikan fasilitas pendidikan dan kualitas pendidik, dan tidak kalah penting adalah keseriusan dari berbagai pihak terutama ’decision maker’ dalam meningkatan kualitas dan mutu pendidikan, sehingga dalam kegiatan sehari-hari yang paling kecil sekali pelaksanaan proses belajar mengajar sudah seharusnya perlu diperhatikan, sehingga dalam kualitas dan mutu pendidikan tidak akan memakan waktu yang sia-sia dalam proses peningkatan pendidikan di negeri kita ini.

Semua orang tahu bahwa, pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan “manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik”.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan tinggi.

Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negeri agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.
Mempersiapkan pendidikan generasi muda sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang generasi muda bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
Dalam rangka merealisasikan `learning to know`, Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.
‘Learning to do’ (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.
Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari negeri tempat dilangsungkan pendidikan itu. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan negeri setempat.
‘learning to be’ (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal.
Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses “learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tertentu saja.
Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap peserta didik yang dituntut oleh negeri ini, kepribadian dan moral manusia negeri ini pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia negeri yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat secara nasional di era globalisasi ini.
Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu: (1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan); (2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat ‘decision maker’ pendidikan dinegeri ini?; (3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran); (4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?; (5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?; (6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi); (7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?.
Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, dan yang paling terpenting adalah pembenahan personil pengelola pendidikan itu sendiri, yang muaranya nanti berbias pada menumbuhkembangkan sebuah konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis, dan mandiri dalam dunia pendidikan di negeri ini. Disamping itu perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di negeri ini, yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah dan kota, misalnya kelompok pakar, himpunan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat di negeri ini, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.

LOGO KONSELOR

Oleh Ade Saputra.S.Pd.M.M, Guru SMP Negeri 1 Sungai Penuh, Sebagai Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Ada suasana yang sangat mengembirakan bagi kita dimana adanya wacana pemerintah Daerah dalam menerapkan sebagai kota pendidikan, dan ini dapat dijadikan sebagai agenda besar daerah ini, dalam penciptaan generasi yang lebih berkualitas. Hampir disemua institusi pendidikan sepertinya bergairah dan hidup kembali, dan ini sangat berbeda dengan yang kita rasakan sebelumnya, dimana sektor pendidikan diletakan pada nomor kedua, bahkan tidakdiperhatikan. Padahal sektor dunia pendidikan sangatlah menjanjikan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia yang akan datang, sehingganantinya melahirkan generasi baru yang lebih berkualitas.

Dalam memajukan dunia pendidikan sekarang ini tidak bisa kita pungkiri, bahwa anggaran pendidikan dan dalam pelaksanaannya haruslah sudah menjadi pemicu utama dalam peningkatan gairah peningkatan kualitas itu, baik dari pendidik maupun keluaran daripada peserta didik nantinya. Pada era otonomi daerah ini, yang sangat luas meniscayakan anggaran pembangunan di daerah diatur menurut sistem block grant yang secara leluasa dapat dipakai oleh pemerintah daerah untuk membangun daerahnya. Misalnya, berapa anggaran untuk pembangunan sektor X dan berapa untuk sektor Y sangat bergantung kepada anggota DPRD dan pemerintah daerah untuk mengatur dan menentukannya.

Karena itu, cara pandang mengenai alokasi anggaran mana yang penting dan mana yang tidak penting sepenuhnya terserah kepada para pejabat dan para politikus kita, di daerah-daerah untuk mengaturnya sendiri. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketidaksamaan cara pandang serta arah kecenderungan sikap dan apresiasi para elite di daerah itu mengenai pentingnya pendidikan. Kalaupun secara kognitif tahu bahwa pendidikan itu mahapenting, ada kekhawatiran bahwa tuntutan-tuntutan mendesak mengenai berbagai sektor yang bersifat fisik dan proyek-proyek yang menyangkut kepentingan jangka pendek jauh lebih menarik dan akan menyita perhatian lebih banyak dikalangan para pengambil kebijakan di daerah-daerah dewasa ini ketimbang soal pendidikan. Dengan alasan ingin menggenjot pendapatan asli daerah (PAD).

Karena itu, perlu dipikirkan sungguh-sungguh bahwa sektor pembangunan pendidikan di daerah-daerah di era otonomi daerah ini tidak menjadi terbengkalai. Hal itu menjadi penting karena bangsa kita telah mencanangkan pelaksanaan program wajib belajar dalam pengertian universal education untuk sembilan tahun. Karena itu, pendidikan dasar yang mencakup pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) dan tingkat (SMP) mau tidak mau harus dijamin oleh pemerintah, termasuk pemerintah daerah. Meskipun kita menganut kebijakan civil society yang mengutamakan prinsip pemberdayaan masyarakat, sukses tidaknya pelaksanaan agenda pendidikan dasar sembilan tahun itu tidak bisa diserahkan bulat-bulat kepada masyarakat. Pemerintah daerah harus dipahami wajib menyediakan anggaran yang cukup. Untuk itu, sesuai dengan prinsip negara pengurus (welfare state) yang menjadi latar belakang pemikiran ketika para pendiri bangsa kita merumuskan UUD 1945, peran pemerintah untuk mengupayakan sekuat tenaga bagi terangkatnya pendidikan menjadi sebuah institusi unggulan. Apalagi, secara imperatif anggaran pendidikan sudah dijamin dengan pagu 20% tiap tahun sesuai dengan amanat konstitusi.

Memang, jika dibandingkan dengan negara yang secara ekstrem sangat mengutamakan pendidikan, persentase yang termaktub dalam konstitusi kita masih lebih kecil. Taiwan, misalnya, secara akumulatif mematok porsi anggaran pendidikan sebesar 35% dari total anggaran pembangunan mereka di tingkat daerah. Di tingkat provinsi, anggaran pendidikan diberi porsi 25%, sedangkan di tingkat pusat 15%. Karena itu, tingkat pertumbuhan dan pemerataan pembangunan rakyat di Taiwan luar biasa berhasil.

Sementara itu, disektor pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak diantara saudara kita sebagai pendidik belum begitu sadar dalam melaksanakan tugasnya, justru berbuat diluar kewajaran atau melanggar peraturan-peraturan yang pernah dibuat untuk memberikan kontribusi yang besar kepada peserta didik kita, sehingga nantinya dapatlah kita perkirakan bagaimana alhasil dari kualitas peserta didik yang demikian. Kita sadar masih banyaknya opini yang berkembang ditengah masyarakat kita, dimana orang-orang selalu bertanya, mengapa para pendidik kita masih enggan meninggalkan budaya lama, yang sama-sama kita ketahui sangat merugikan bagi perkembangan dan keluaran sumber daya manusia peserta didik yang berkualitas yang dibutuhkan oleh daerah dan negara ini. Budaya-budaya lama yang masih sangat dipertahan dan sangat merugikan bagi masyarakat banyak antaranya adalah :

  1. Budaya korupsi yang belum menampakkan penurunan malah belakangan ini makin menunjukakan peningkatan dengan berbagai metode yang diperhalus di dunia pendidikan kita, seperti hanya datang diwaktu jam mengajar saja, sementara seorang peserta didik harus sudah selalu aktif berada di sekolah mulai Jam 07.30 sampai jam 12.30, ditambah lagi guru yang sudah sertifikasi tentu lebih dibutuhkan tanggung jawabnya yang lebih tinggi lagi.
  2. Budaya menonjolkan kepentingan pribadi dan golongan dengan mengorbankan idealisme hidup yang dimiliki oleh pendidik itu sendiri, dalam mendidik peserta didik yang berkualitas.
  3. Budaya melecehkan dan tidak menghargai prestasi orang lain, dimana peserta didik kita tidak terbiasa menghargai prestasi orang lain, melainkan malah saling menyindir atau saling menyalahkan ketimbangkan menonjolkan kompetensi pemecahan masalah.

Sedangkan menurut Payne Dalam Uyung Sulaksana (2003)” kekuatan budaya dapat diukur dari sejauhmana budaya tersebut dianut oleh semua anggota dan sejauhmana organisasi mempercayainya, semakin intens budaya organisasi, semakin kuat pengaruhnya pada semua tingkatan dimana budaya memanifestasikan diri, yaitu mempengaruhi tak sekedar sikap bawahan namun juga nilai-nilai, asumsi dasar dan keyakinan mereka yang ada di organisasi tersebut. Hal ini mungkin kurangnya perhatian kita dalam menyikapi bagaimana kita sebagai pendidik yang berada dalam organisasi tersebut menyikapinya dalam memperbaiki budaya yang berkembang didunia pendidikan, yang sedang hangatnya mencanangkan sebagai Kota Pendidikan.

Kita sadari bahwa tenaga pendidikan yang direkrut oleh berbagai institusi mereka adalah berada dilevel kedua dari pada institusi diluar dunia pendidikan, sehingga wajar kalau keluaran yang kita harapkan dalam dunia pendidikan tersebut juga dihasilkan adalah level kedua bahkan yang terakhir, ini adalah tugas kita dalam menanamkan bagaimana agar dunia pendidikan kita yang sedang dicanangkan sebagai Kota pendidikan, untuk lebih bisa berbenah diri dalam menyiapkan baik itu sumber daya manusia Pendidik, Maupun kualitas lulusan peserta didik nantinya, bahkan bisa bersaing dengan keluaran lulusan daerah lain.

Kita sadar bahwa karakteristik orang-orang yang berada didunia pendidikan yang sedang dicanangkan ini, haruslah orang-orang yang berprestasi tinggi (high achievers), sementara kita ketahui bahwa orang-orang yang berprastasi tinggi memiliki tiga macam ciri umum yakni ;

  1. Preferensi mereka untuk mengerjakan tugas dengan derajat kesulitan moderat.
  2. Dimana mereka menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri bukan atas kemujuran.
  3. Mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka .

Dan kita sadari bahwa budaya tersebut diatas yang menginginkan prestasi tinggi yang harus sudah tumbuh dan berada ditengah-tengah kita sebagai pendidik, dengan demikian dapatlah kita simpulkan bahwa, berdasarkan ciri tersebut diatas jikalau kita jadikan suatu budaya yang berkembang di dunia pendidikan merupakan entrepreneur yang berhasil. Dalam hal ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ;

  1. Betapa sekolah tidak memiliki daya tarik lagi untuk menarik generasi muda untuk sebagai tempat berkreatifitas.
  2. Betapa sekolah tidak lagi memiliki minat atau gairah dan ketertarikan terhadap kegiatan sekolah yang selalu monoton.

Sementara kita ketahui bahwa kalau saja
dunia pendidikan kita ini, mau berbenah diri dalam menyikapi tujuan dari sebuah kota pendidikan boleh jadi, kita tidak pernah lagi melihat keberhasilan dari individu yang dilahirkan dari dunia pendidikan sebagai sebuah wacana, dan yang harus sudah dipersiapkan aspek-aspek yang sangat prinsip dalam dunia pendidikan yakni membenahi dari pada Budaya pendidik yang kurang berkualitas.

Dalam artikata bahwa reorientasi, reposisi dan reorganisasi kelembagaan dunia pendidikan didaerah ini sudah harus dipikirkan, agar nantinya sekolah sebagai sentra pendidikan bisa manarik minat para peserta didik (generasi muda), untuk ikut aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan sekolah sebagai sentralnya.

Disamping itu dunia pendidikan tidak lagi terlalu elergi membicarakan isu-isu “kontemporer” yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman seperti “Proverty reduction, Sosial transformation, Economic Liberation, Political Identity, Nation Integration, Civic soscaity” dan sejenisnya.

Dari urai tersebut diatas jelas dunia pendidikan dimana Sekolah sebagai sentranya, secara umum dapat kita uraikan sebagai berikut ;

  1. Dunia pendidikan dan Sekolah sebagai ujung tombaknya, tidak hanya bermanfaat untuk tempat proses belajar mengajar saja, namun juga dapat mampu mengerakkan kesejahteraan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.
  2. Sekolah dapat menimbulkan efek Psikologis dalam arti kata keberartian moral.
  3. Sekolah harus sudah dipikirkan agar dibangun dan dipelihara dengan paripurna artinya “performance yang asri, indah dan menarik untuk dikunjungi dan sekaligus “comfort” atau nyaman bagi peserta didik”.
  4. Dalam upaya pembangunan sarana dan prasarana sekolah tersebut, diperlukan adanya kesadaran yang sangat mendalam dari setiap diri masyarakat yang peduli pendidikan, dalam memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan yang ada didaerah ini baik materil maupun suprituil.

Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan kembali kapasitas Komite sekolah, dan diperlukakannya penguatan kapasitas kepengurusannya, sebab banyak kita jumpai selama ini, komite sekolah itu seakan-akan hanya mengurus bagaimana pengadaan sarana prasarana saja akan tetapi lebih dari pada itu yang diharapkan dalam keperanannya. Agar juga ikut menarik minat dalam peserta didik senang dan menyenangi sekolah sebagai ajang peningkataan kreatifitas.

Dalam pemecahan masalah atau solusi dalam menghadapi permasalah yang dihadapi tersebut, diantaranya;

Pertama, Dunia pendidikan dan sekolah sebagai sentranya, tidak menepik bahwa orang tua yang berperan dirumah agar menumbuhkembangkan agar peserta didik mau ikut mengembang kreatifitasnya di sekolah.

Kedua, para peserta didik aktif dan rajin sepanjang ada kegiatan di sekolah dikarena kegiatan tersebut, mendekati dari dunia perkembangan jiwa peserta didik tersebut.

Ketiga, mereka peserta didik tidak aktif setelah kegiatan itu berlangsung dikarenakan mereka menganggap bahwa sekolah tidak untuk tempat memacu kreatifitas mereka.

Walau kita tahu bahwa apa yang diterapkan sistem pendidikan didaerah kiata adalah pendidikan yang pro Neoliberal (dengan komersialisasi diberbagai infrastruktur dan kurikulum yang sarat nilai-nilai individualistik), dan walaupun penerapan tersebut juga mampu ditutupi oleh konsep yang seakan-akan pro rakyat (dengan anggaran minimal 20% dari APBN), namun itu belumlah cukup untuk mendeklarasikan sistem pendidikan yang ada didaerah ini, untuk mampu menjalankan fungsinya yang terhakikat.

Solusi sistem pendidikan dizaman yang penuh ketimpangan, kemiskinan dan keserakahan ini tidak lain adalah sistem pendidikan progresif, yaitu sistem pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak manusia sebagai mahluk yang paling beradab. Sistem pendidikan yang demikian bersifat terus maju dengan melekatkan terus konsep manusia sebagai tujuannya. Sistem pendidikan yang demikian tidaklah memecah konsep dari sistem penerapannya, melainkan melekat satu dengan yang lainnya.

Oleh ; ADE SAPUTRA.S.Pd.M.M.
Profesi Guru Pembimbing ( Konselor ) merupakan suatu profesi yang keahlian nya melayani peserta didik dengan paradigma layanan bantuan yang dapat bersipat paedagogis, psikologis, dan religius / spritual, Peserta didik sebagai orang yang sedang berada dalam proses perkembangan, yaitu berkembang kearah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan dan kemandirian tersebut siswa perlu mendapatkan bimbingan, karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungan, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Proses perkembangan peserta didik tidak selalu berlangsung sebagai mana yang kita inginkan, atau terbebas dari segala macam godaan dan tantangan, tidak sedikit ditemui peserta didik yang terjerumus pada kegiatan yang merugikan diri sendiri dan menghancurkan masa depannya. Begitu banyak ditemui peserta didik yang gagal dalam pendidikan . Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut.

Menyikapi hal tersebut semua personil sekolah, khususnya koordinator BK bersama Guru Pembimbing yang terdepan dalam pemberian layanan pada peserta didik harus memprogramkan atas segala kegiatan layanan yang akan diberikan, sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa, dan tentunya sebelum membuat program harus terlebih dahulu mencari tahu apa-apa saja yang menjadi kebutuhan siswa tersebut, sehingga dalam pelaksanaannya nanti dapat terlaksana dengan baik.

    Hal ini ditandai dengan penegasan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat 2), dan “profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi(UU No.14 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 4).

Untuk menjadi professional dalam pelayanan konseling di sekolah, seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi, yaitu (1) komponen dasar keilmuan, (2) komponen substansi profesi, dan (3) komponen praktik profesi Konselor, yang adalah pendidik (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) , sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan, khususnya bidang konseling, yaitu

  1. Komponen Dasar Keilmuan    :     Ilmu Pendidikan
  2. Komponen Substansi Profesi    :    Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling.
  3. Komponen Praktik Profesi    :    Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling.

Pelayanan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik.

Bila kita memandang mutu pelayanan konseling dari sisi produk, maka pelayanan konseling yang bermutu itu mampu mengembangkan setiap individu seoptimal mungkin sesuai dengan harapan siswa, masyarakat, dan pemerintah. Dengan memperhatikan harapan-harapan dari berbagai pihak terhadap pelayanan konseling, dapat disimpulkan bahwa produk pelayanan konseling yang bermutu adalah layanan bimbingan dan konseling yang mampu memenuhi harapan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemerintah, yaitu mampu mengembangkan seluruh potensi siswa meliputi aspek pribadi, social, pendidikan, dan karier.

Konteks Sekolah

Dalam kontek sekolah, indikator pelayanan konseling yang bermutu ditunjukan oleh adanya siswa yang merasa terbantu dalam menyelesaikan masalah pribadi, sosial, belajar, dan karier. Atau banyak siswa yang memanfaatkan pelayanan koseling diluar jam bimbingan di kelas, dan adanya peningkatan penguasaan tugas-tugas perkembangan siswa, oleh karena itu dalam meningkatkan kualitas pemberian pelayanan konseling di sekolah harus adanya kerjasama yang dalam arti kata adanya kerjasama team dalam pengelolaanya

Istilah
“Team” merujuk kepada suatu
kelompok yang bekerja sama untuk
mencapai suatu misi atau tujuan tertentu. Team memiliki bentuk, misi, dan durasi yang beragam. Karolyn J. Snyder and Robert H. Anderson (1986) mengidentifikasi dua tipe team, yaitu team permanen dan team sementara. Team permanen mengkhususkan dalam fungsi tertentu yang dilakukan secara berkelanjutan. Sedangkan, team sementara merupakan team yang diorganisasikan hanya untuk kepentingan dan tujuan jangka pendek yang kemudian dapat dibubarkan kembali, setelah pekerjaan selesai. Biasanya bertugas menangani proyek yang bersifat sementara.

Team work

Langkah awal untuk membentuk sebuah team yang baik adalah setiap anggota terlebih dahulu harus memahami tujuan dan misi team secara jelas. Setiap anggota seharusnya mampu menjawab pertanyaan ” Mengapa saya berada disini”, demikian dikemukakan oleh Margot Helphand (1994). Berikutnya, menentukan peran dan tanggung jawab masing-masing anggota. Dalam hal ini, Yadi Heryadi mengemukakan beberapa peran penting dalam suatu Team :

  1. Pencatat yaitu anggota Team yang bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang dilakukan oleh Team, termasuk mencatat hal-hal penting hasil rapat-rapat, serta membuat notulen rapat-rapat.
  2. Pencatat Waktu yaitu anggota Team yang bertugas mengingatkan Team berjalan sesuai jadwal.
  3. Penjaga Gawang yaitu anggota Team yang bertugas menyemangati anggota Team yang lain sehingga terjadi keseimbangan partisipasi seluruh anggota, dan
  4. Devil’s advocate yaitu anggota Team yang pandangannya berbeda dengan pandangan anggota Team yang lain, sehingga isu isu yang ada dilihat dari berbagai sisi.

Dalam sebuah team work perlu adanya seorang ketua atau pemimpin yang bertugas untuk mengendalikan seluruh kegiatan team, baik dalam perencanaan, pengimplementasian, maupun penilaian, dalam menentukan keberhasilan suatu team dimulai dari perencanaan yang akurat, pelaksanaan yang tepat, dan pengawasan yang ketat. Sementara itu ketua bisa dipilih oleh anggota atau ditunjuk oleh pihak yang memiliki kewenangan, disinilah yang membedakan antara ketua dengan kepala adalah dalam segi siapa yang membentuk, dan tugas pertanggungjawabannya, ketua bertanggungjawab kepada anggota, sedangkan kepala bertanggungjawab kepada atasan menunjuknya untuk menepati tugas tersebut.

Yadi Haryadi mengetengahkan tentang ciri-ciri ketua dan anggota team yang baik.

Ciri-ciri ketua team yang baik adalah:

  1. Bekerja sesuai konsensus
  2. Berbagi secara terbuka dan secara otentik dalam hal perasaan, opini, pendapat, pemikiran, dan persepsi seluruh anggota Team terhadap masalah dan kondisi
  3. Memberi kesempatan anggota dalam proses pengambilan keputusan
  4. Memberi kepercayaan penuh dan dukungan yang nyata terhadap anggota Team
  5. Mengakui masalah yang terjadi sebagai tanggung jawabnya ketimbang menyalahkan orang lain
  6. Pada waktu mendengarkan pendapat orang lain, berupaya untuk mendengar dan menginterpretasikan pendapat orang dari sudut pandang yang lain
  7. Berupaya mempengaruhi anggota dengan cara mengikutsertakan mereka dalam berbagai isu

Sedangkan ciri-ciri anggota team yang baik adalah:

  1. Memberi semangat pada anggota Team yang lain untuk berkembang
  2. Respek dan toleran terhadap pendapat berbeda dari orang lain
  3. Mengakui dan bekerja melalui konflik secara terbuka
  4. Mempertimbangkan dan menggunakan ide dan saran dari orang lain
  5. Membuka diri terhadap masukan (feedback) atas perilaku dirinya
  6. Mengerti dan bertekad memenuhi tujuan dari Team
  7. Tidak memposisikan diri dalam posisi menang atau kalah terhadap anggota Team yang lain dalam melakukan kegiatan
  8. Memiliki kemampuan untuk mengerti apa yang terjadi dalam Team

Sementara itu, Larry Lozette mengemukakan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan team, yaitu : (1) anggota tidak memahami tujuan dan misi team, (2) anggota tidak memahami peran dan tanggung jawab yang dipikulnya, (3) anggota tidak memahami bagaimana mengerjakan tugas atau bagaimana bekerja sebagai bagian dari suatu team, (4) anggota menolak peran dan tanggung jawabnya.

Penerapan konsep Team Work dalam pelayanan konseling, khususnya di sekolah akan muncul dalam berbagai bentuk. bahwa team work dalam pelayanan konseling disekolah, dapat berbentuk team manajemen (management team) yang akan membantu guru pembimbing di sekolah dalam pengambilan keputusan atau memecahkan masalah-masalah yang muncul di diri siswa

Terdapat beberapa alasan pentingnya penerapan konsep team work di pelayanan konseling disekolah diantaranya : (1) dengan berusaha melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan, maka diharapkan setiap orang akan dapat lebih bertanggung jawab dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil, (2) setiap orang dapat saling belajar tentang berbagai pemikiran inovatif dari orang lain secara terus menerus, (3) informasi dan tindakan akan lebih baik jika datang dari sebuah kelompok dengan sumber dan keterampilan yang beragam, (4) memungkinkan terjadinya peningkatan karena setiap kesalahan yang terjadi akan dapat diketahui dan dikoreksi, dan (5) adanya keberanian mengambil resiko karena adanya kekuatan kolektif dari kelompok.

    Dalam pelaksanaan pelayanan konseling di sekolah dan dengan memperhatikan dan menerapkan team wotk dalam pelayanan konseling yang ada, akan menumbuh kembangkan prinsip kerjasama yang baik sehingga menjadi suatu culture suatu organisasi di sekolah dimana tempat siswa menuntut ilmu, dan setiap insan dan personil yang berada didalam sekolah (guru, pegawai, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah), dalam menentukan arah dan tujuan yang hendak dicapai, dan dapat secara bersama mencari solusi apabila menemukan suatu permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik atau siswa, sehinggga semua personil yang ada di sekolah tersebut akan saling membantu dalam mengoptimalkan peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Dan memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimilikinya. Dan pada akhirnya menumbuhkembangkan rasa kekeluargaan yang tinggi didalam lingkungan sekolah dalam membawa peserta didik kearah kemajuan yang maksimal, dalam pemberian pelayanan konseling di sekolah dengan pola pelaksanaan kebersamaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teori Belajar

Ade Saputra.S.Pd.M.M Guru SMP Negeri 1 Sungai Penuh (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Dunia berkembang begitu pesat. Segala sesuatu yang semula tidak bisa dikerjakan, mendadak dikejutkan oleh orang lain yang bisa mengerjakan hal tersebut. Agar kita tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang cepat, maka kita sadar bahwa pendidikan itu sangat penting.

Banyak negara yang mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan pelik. Namun semuanya merasakan bahwa pendidikan merupakan salah satu tugas negara yang amat penting. Bangsa yang ingin maju, membangun, dan berusaha memperbaiki keadaan masyarakat dan dunia tentu mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa.

Pengemasan pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran sekarang ini belum optimal seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan kekacauan-kekacauan yang muncul di masyarakat bangsa ini, diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap kekacauan ini.

Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar. Pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar yang demokratis adalah realness. Sadar bahwa anak memiliki kekuatan disamping kelemahan, memiliki keberanian di samping rasa takut dan kecemasan, bisa marah disamping juga bisa gembira “READ MORE”

Realness bukan hanya harus dimiliki oleh anak, tetapi juga orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Lingkungan belajar bebas didasari oleh realness dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran akan menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar.

Bagi para guru, salah satu pertanyaan yang penting tentang belajar adalah kondisi seperti apa yang paling efektif untuk menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau dengan kata lain, bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam instruksi?

Manusia adalah makhlukk individu dan makhluk social, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak lepas dari individu yang lainnya. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antara manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk kondisi dan situasi. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, interaksi dengan sesama, maupun interaksi dengan tuhannya, bauk itu sengaja maupun tidak sengaja.

Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ketidak terbatasannya akal dan keinginan manusia, untuk itu perlu dipahami secara benar mengenai pengertian proses dan interaksi belajar. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.

Menurut “Arden N. Frandsen” mengatakan bahwa hal yang mendorong seseorang itu untuk belajar antara lain sebagai berikut :

  1. Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas ;
  2. Adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju ;
  3. adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman ;
  4. Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan kompetensi ;
  5. Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman ;
  6. Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar. (Frandsen, 1961, p. 216).

Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikoligi atau bagaimanapun juga membicarakan masalah belajar ialah membicarakan sosok manusia. Ini dapat diartikan bahwa ada beberapa ranah yang harus mendapat perhatian. Ranah-ranah itu ialah ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Akan tetapi manusia sebagai makhluk yang berfikir, beda dengan binatang. Binatang adalah juga makhluk yang dapat diberi pelajaran, tetapi tidak menggunakan pikiran dan akal budi. “Ivan Petro Pavlov”, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam melakukan serangkaian percobaa. Dalam percobaan itu dia melatih anjingnya untuk mengeluarkan air liur secara stimulus yang dikaitkan dengan makanan. Proses belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi (pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindera) dengan makanan. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus atau respons refleksif.

Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut J.B Watson diberi istilah behaviorisme. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia harus dipelajari secara objektif. Ia menolak gagasan mentalistik yang bertalian dengan bawaan dan naluri. Watson menggunakan teori classical conditioning untuk semuanya yang bertalian dengan pembelajaran. Pada umumnya ahli psikologi mendukung proses mekanistik. Maksudnya kejadian lingkungan secara otomatis akan menghasilkan tanggapan. Proses pembelajaran itu bergerak dengan pandangan secara menyeluruh dari situasi menuju segmen (satuan bahasa yang diabstraksikan dari kesatuan wicara atau teks) bahasa tertentu. Materi yang disajikan mirip dengan metode dengar ucap.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apakah pengertian teori belajar humanisme ?
    2. Apakah pengertian teori belajar Behaviorisme ?
    3. Bagaimanakah penerapan kedua teori belajar tersebut ?
    4. Siapa saja tokoh-tokoh teori belajar ?
    5. Bagaimana implikasi teori-teori belajar tersebut ?
  2. Tujuan dan Manfaat Penyusunan Makalah
    1. Agar kita memahami tentang berbagai macam teori belajar
    2. Untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan teori-teori belajar dalam pendidikan
    3. Mendeskripsikan implikasi teori belajar
    4. Mengkaji implikasi teori belajar

Adapun penyusunan makalah ini bermanfaat secara :

  1. Teoretis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami implikasi pendidikan, pembelajaran, pengajaran, prinsip-prinsip pembelajaran, dan perkembangan teori pembelajaran.
  2. Praktis, bermanfaat bagi :
    1. Para pendidik agar pendidik tidak salah persepsi tentang pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran
    2. Mahasiswa agar memahami tentang pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Teori Belajar
    1. Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmani, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu mengajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori kaum behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organism sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional, atau emosional ; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.

Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini timbullah konsep “manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistik, menekankan peranaan lingkungan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologi artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.

  1. Teori Humanistik

Teori Humanistik yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam Dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanistik dalam pendidikan. Dalam artikel “What Is Humanistik Education”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa criteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam pendidikan. Ide mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanistik.

Dalam artikel “Some Education Implications of The Humanistic Psychologist” Abraham Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan behavioristik. Menurut Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidak normalan” atau “sakit” seperti yang dilihat oleh teori psikoanalisa Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah “sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistic biasanya menfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.

Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan perkembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif, misalnya keterampilan membangun dan menjaga relasi yang hangat dengan orang lain, begaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan, kesadaran, memehami perasaan orang lain kejujuran interpersonal, dan pengetahuan interpersonal lainnya. Intinya adalah meningkatkan kualitas keterampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari.

Selain menitik beratkan pada hubungan interpersonal, para pendidikan yang beraliran humanistic juga menoba untuk membuat pembelajaran yang membentu anak didik untuk meningkatkan kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi, merasakan, dan berfantasi. Pendidik humanistic mencoba untuk melihat dalam spectrum yang luas mengenai perilaku manusia. “Berapa banyak hal yang bisa dilakukan manusia? Dan bagaimana akju bisa membantu mereka untuk melakukan hal-hal tersebut dengan lebih baik ?

Melihat hal-hal yangdihusahakan oleh para pendidik humanistic, tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan pentingnya emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang menganggu perkembangan, sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi bisa dikatakan bahwa emosi adalah karekteristik yang sangat kuat yang nampak dari pada pendidik beraliran humanistik. Karena berfikir dan merasakan saling beriringan, mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikan salah satu potensi terbesar manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapat keuntungan dari pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan kognisi.

  1. Tokoh-Tokoh Teori Belajar
    1. Teori Behaviorisme

      Beberapa tokoh besar dalam aliran behaviorisme antara lain adalah :

  • Ivan Petrovich Pavlov (1849 – 1936)

IIvan Petrovich Pavlov lahir tanggal 14 September 1849 di Ryazan Rusia. Ia mengemukakan bahwa dengan menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.

Pavlov mengadakan percobaan laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut diterapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara menggati stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi. Yang penting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.

  • Thorndike (1874 – 1949)

Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzle box. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasi terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.

Atas dasar percobaan di atas, Thorndike menemukan hokum-hukum belajar :

  1. Hukum Kesiapan (Law of Readness)

Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

  1. Hukum Latihan

Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect.

  1. Hukum Akibat (Efek)

Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hokum akibat adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.

  • Skinner (1904-1990)

Skinner menganggap reward dan reinforcement merupakan faktor penting dalam belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku. Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.

Operant conditing menjadi respon terhadap stimuli. Bila tidak menunjukkan stimuli maka guru tidak dapat membimbing siswa untuk mengarahkan tingkah lakunya. Guru memiliki peran dalam mengontrol dan mengarahkan siswa dalam proses belajar sehingga mencapai tujuan yang diinginkan.

Prinsip belajar Skinners adalah :

  • Hasil belajar harus segerah diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguatan.
  • Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai system modul.
  • Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
  • Tingkah laku yang diinginkan pendidikan diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable ratio reinforce.
  • Dalam pembelajaran digunakan shapping.

     

  1. Teori Humanistik
  • Arthur Combs (1912-1999)

Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarahbukan karena bodoh tetapi kerena mereka ebggab dan terpaksa dan merasa sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melalukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan yang berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaomana membawa siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.

  • Abraham Maslow

Maslow mengatakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju kea rah keutuhan, keunikan diri, kea rah berfungsinya semua harapan, kea rah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistic. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :

  • Kebutuhan fisiologis / dasar
  • Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
  • Kebutuhan untuk mencintai dan disayangi
  • Kebutuhan untuk dihargai
  • Kebutuhan untuk aktualisasi diri

 

  • Carl Rogers

Carl Ransom Rongers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di Lajolla California, pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rongers tidak memiliki benyaj teman sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku pertualangan.Ia pernah belajar di bidang agrikultural dan sejarah university of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia memperoleh gelar di bidang psikologi dari Colombia University dan kemudian memperoleh gelar Ph.D di bidang psikologi klinis pada tahun 1931.

Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child Study Departement of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak pada perhimpunan pencegahan kekerasan terhadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal denganmenggunakan metode-metode psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul “The Clinical Treatment of the Problem Child”, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American Psychological Society.

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistic yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan therapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas therapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan berpendapat para therapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien.

Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikandan pembelajaran, yaitu :

  • Menjadi manusia berarti memilikki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
  • Siswa akan mempelajari hal-hal yang bemakna bagi diriny. Pengorganisasian bahan belajar berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
  • Pengorganisasianbahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
  • Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistic yang penting diantaranya ialah :

  • Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
  • Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
  • Belajar yang menyangkutperubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
  • Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancama-ancaman dari luar itu semakin kecil.
  • Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yabf berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
  • Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
  • Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
  • Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
  • Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengkritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
  • Belajar yang paling berguna secara social di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap perubahan itu.
  1. Implikasi Teori Belajar

Perkembangan teori belajar cukup pesat. Berikut ini adalah teori belajar dan implikasinya dalam kegiatan pembelajaran.

  1. Teori Behaviorisme

Belajar adalah perubahandalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku dapat berujud sesuatu yang konkret atau yang non konkret, langsung secara mekanik memerlukanpenguatan. Implikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.

Implikasi teori teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :

  • Implikasi Teori Pavlov

Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara murid dan guru dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap ramah dam memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa trkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.

  • Implikasi Teori Thorndike
    • Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk rapi, tenang dan sebagainya.
    • Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau system drill.
    • Guru member bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberi motivasi proses belajar mengajar.
  • Implikasi Teori Skinner

Guru mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan di nilai sesegera mungkin.

  1. Teori Humanistik
  • Implikasi Teori Humanistik

Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses bersifat eklektik, tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanistik dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berfikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya masing-masinbg didepan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan

Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembenukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan implikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.

    Guru yang baik menurut teori ini adalah Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Teori belajar humanisme dan behaviorisme memiliki cirri khas masing-masing. Teori belajar humanisme berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang perilakunya bukan sudut pandang pengamatannya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia unik dan membantu dalm mewujudkan potesi-potensi yang ada pada diri mereka. Sedangkan teori belajar behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan siswa mempunyai pengalaman baru. Implikasinya dalam pembelajaran adalah bahwa guru memiliki kemampuan dalam mengelola hubungan stimulus respons dalam situasi pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat optimal.

Manfaat dari beberapa teori belajar adalah :

  1. Membantu guru untuk memahami bagaimana siswa belajar
  2. Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan proses pembelajaran.
  3. Memandu guru untuk mengelola kelas
  4. Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah dicapai.
  5. Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan produktif
  6. Membantu guru dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat mencapai hasil prestasi yang memuaskan.

     

Implikasi perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa dan sebagainya.

 

  1. Saran

Pengertian, prinsip danperkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan di terapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori belajar, prinsip-prinsippembelajarandan pengajaran, pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan output yang berkualitas yang mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiningsih, Asri C.2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM PROSES SERTIFIKASI GURU

 

Proses sertifikasi guru yang ada telah berlangsung selama empat tahun, yaitu tahun 2006 dan sampai tahun 2009. Presentase kelulusan uji sertifikasi dari tahun ketahun dalam bidang studi Bimbingan konseling boleh dikatakan sangat sedikit sekali. Banyak pihak beralasan, kegagalan guru bimbingan Konseling dalam uji sertifikasi disebabkan karena uji sertifikasi ini merupakan sesuatu yang baru, dan sosialisasi sertifikasi khususnya bidang Bimbingan Konseling, masih kurang merata antara guru yang ada diperkotaan dengan guru yang ada didaerah.

Di samping itu, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai, sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Kendati demikian, keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi, yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling, berbentuk :

  1. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda, dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan; (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan; (c) pemilihan instrumen/media; (d) strategi pelayanan; dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut.
  2. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan, dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling

Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) , dengan aspek-aspek penilaian meliputi :
1. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor)
2. Daftar konseli
3. Data kebutuhan dan permasalahan konseli
4. Laporan bulanan
5. Laporan semesteran/tahunan
6. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling :

  • Pemahaman : (antara lain : sosiometri, kunjungan rumah, catatan anekdot, konferensi kasus)
  • Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, referal)
  • Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan, kotak masalah, bibliokonseling, audio visual, audio, media cetak : liflet, buku saku)

7. Laporan hasil evaluasi program, proses, produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya.

Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas, maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis , yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Dalam hal ini, perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi.

Begitu juga dalam pelaksanaan layanan, guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten, khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi.

Berbagai macam alasan guru atas kegagalan dalam kelulusan sertifikasi bidang Bimbingan Konseling, pertama didaerah minimnya pengawas sekolah yang berlatar belakang bimbingan Konseling sehingga pengetahuan Bimbingan Konseling hanya bersipat meraba-raba, pengawas beranggapan semua orang bisa memberikan Bimbingan Konseling dan yang lebih parah lagi, menyamakan perangkat antara guru bidang studi dengan guru bimbingan konseling. Sedangkan alasan yang kedua kesiapan guru yang belum pas dalam memberikan pelayan, sehingga munculah alasan lain-lain. Misalnya seperti alasan ketidak pahaman guru tentang persiapan forto polio, mulai dari angket kebutuhan siswa, program tahunan, program semester, program Bulanan, program Mingguan dan, dalam persiapan pengembangan materi mencakup semua layanan Bimbingan, rencana program harian pelayanan konseling, laporan pelaksanaan program,kegiatan mingguan pelayanan konseling, jenis dan frekuensi layanan yang diterima peserta didik dan disamping itu hal yang sangat klasik adalah guru dianggap terlalu sibuk menyelesaikan masalah siswa binaannya sehingga kurang terperhatikan masalah perangkat yang wajib dipersiapan dalan penyusunan fortopolio untuk proses sertifikasi.

Itu sudah sangat berbeda dengan kondisi yang ada di daerah, dimana guru-guru yang ada di daerah sangat antusias dalam pelaksanaan untuk sertifikasi, dengan besarnya tambahan penghasilan dan tanpa tahu apa tujuan akhir dari sebuah sertifikasi tersebut, sedangkan tujuan sertifikasi adalah (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, (2) meningkatkan professional guru, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan, (4) mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional, dan (5) meningkatkan kesejahteraan guru.

Jadi jelas tujuan sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan seorang guru dalam proses belajar mengajar dan, sebagai agen pembelajaran yang ada di sekolah tersebut, bukan malah sebaliknya, guru yang sudah sertifikasi malah lebih tidak layak sebagai model dalam melaksanakan tugas. walaupun sertifikasi tersebut mempunyai tujuan untuk mensejahterakan guru tersebut, akan tetapi lebih dari itu, bagaimana guru dengan adanya sertifikasi tersebut guru lebih professional dalam mengelola pendidikan, baik sebagai panutan dan pedoman bagi sesama guru, peserta didik maupun bagi semua yang ada dilingkungan pendidikan.

Banyak alasan kegagalan uji sertifikasi guru yang bisa dicari, tetapi apapun alasan yang dikemukakan, tanpa adanya kemauan dan kemampuan seorang guru menyiapkan fortopolio sehingga memenuhi standar dari nilai yang ditetapkan oleh asesor tim penilai baik dikabupaten maupun propinsi. Dalam hal untuk melakukan tindakan perbaikan, tak akan ada artinya.

Menyikapi kejadian menarik pada sertifikasi tahun 2008, pada pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru. Pengisian kekurangan kuota ini menimbulkan kecurigaan beberapa kalangan, bahwa telah terjadi jual beli tiket sertifikasi. Kecurigaan ini muncul karena kekurangan kuota ini banyak diisi oleh guru dengan kedekatan dengan kepala sekolah, dan dinas pendidikan. Ataukah dinas pendidikan yang lebih banyak bermain dalam menentukan kuota sertifikasi bahkan dapat dijadikan sebagai bahan bisnis yang menjanjikan bagi dunia pendidikan kita. nah. Bagaimana dengan daerah kita ?.

Ketidak sampainya informasi itu pada guru. Alasan yang sering dikemukakan, ini adalah alasan lama dan klasik, mengapa hal ini terjadi ?, ada berapa factor kesuksesan uji sertifikasi yang perlu di petik oleh pengelola pendidkan pertama harus adanya perencanaan yang akurat, kedua pelaksanan yang tepat, dan ketiga adanya pengawasan yang ketat. Sehingga tidak ada lagi anggapan guru yang lain atas kegagalan dalam uji sertifikasi tersebut.

Ada dua pelajaran yang dapat dipetik dari pengisian kekurangan kuota sertifikasi guru tersebut. Pertama, adanya kepala sekolah yang belum mempersiapkan guru untuk mengikuti uji sertifikasi sewaktu-waktu bila ada permintaan. Kedua, walaupun terjadi penyimpangan terhadap kriteria penetapan peserta uji sertifikasi, yaitu prioritas utama peserta adalah masa kerja, usia, golongan (bagi PNS), beban mengajar, tugas tambahan. Dan prestasi kerja. Akan tetapi kelulusan peserta uji sertifikasi tambahan kuota itu lebih terjamin kelulusannya.

Dua pelajaran di atas menimbulkan gagasan penulis tentang kiat mengatasi kegagalan guru secara umum dalam mengikuti uji sertifikasi. Kepala sekolah, dan khususnya yang telah lulus uji sertifikasi, agar memfasilitasi guru dalam mengisi dan melengkapi fortopolio sertifikasi. Banyak hal dalam sertifikasi yang membutuhkan peran aktif kepala sekolah. Salah satu contohnya yang paling sederhana adalah penilaian tentang RPP. Jika pada setiap akhir pembelajaran, RPP dan pelaksanaannya selalu diberikan penilaian oleh kepala sekolah, maka guru tak perlu lagi kerepotan dalam mengisi fortopolio sertifikasi yang berkaitan dengan RPP. Di samping itu, guru akan dapat memilih lima RPP terbaik, berdasarkan penilaian yang telah diberikan kepala sekolah.

Yang tak kalah pentingnya adalah kemauan dan kemampuan kepala sekolah untuk berperan aktif membantu memprediksi nilai sertifikasi guru. Walaupun prediksi nilai kepala sekolah mungkin tak sama dengan nilai dari penilai sertifikasi sebenarnya, ini cukup membantu mengurangi tingkat kegagalan uji sertifikasi guru yang bersangkutan. Bahkan jika memungkinkan, secara internal kepala sekolah dapat membentuk tim penilai sertifikasi guru. Tugas tim internal ini adalah menilai sertifikasi guru di luar penilaian yang bersifat rahasia. Dengan adanya tim ini di sekolah, kepala sekolah akan mengetahui dengan cepat dan tepat guru-guru yang betul-betul sudah telah siap mengikuti sertifikasi. Bahkan lebih jauh daripada itu, kepala sekolah dapat menilai kinerja masing-masing guru di sekolahnya, sehingga siapa saja yang dapat diusulkan untuk layak dimasukkan pada kouta uji sertifikasi berikutnya.

Komunikasi antar Guru agar diperlakukan adil

Walaupun prioritas utama kriteria peserta uji sertifikasi guru adalah masa kerja atau pengalaman mengajar, kita tak boleh melupakan makna sertifikasi itu sendiri, yaitu guru yang sudah lulus uji sertifikasi berarti guru itu telah diakui kapasitasnya sebagai guru.

Tentu tidak semua guru yang masa kerjanya lebih lama mempunyai kapasitas yang memadai sebagai guru, atau sebaliknya. Itulah sebabnya pemerintah menetapkan kriteria kelulusan pada uji sertifikasi guru. Tidak adil kiranya, jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada lama masa kerja tanpa melihat prestasi kerja, sebagaimana tidak adilnya jika penetapan peserta semata-mata diutamakan pada prestasi kerja tanpa melihat masa kerja.

Ada jalan komunikasi yang dapat ditempuh agar semua guru merasa diperlakukan adil tanpa mengesampingkan tujuan sertifikasi dan kriteria penetapan peserta sertifikasi. Jalan kompromi tersebut adalah kepala sekolah memberikan kesempatan pada semua guru untuk mengisi fortopolio sertifikasi dan kemudian menilai isian fortopolio tersebut. Dari penilaian tersebut, kepala sekolah dapat menetapkan guru-guru yang diperkirakan akan lulus uji sertifikasi sekaligus menetapkan urutan peserta uji sertifikasi dari sekolahnya dengan memprioritaskan guru yang mempunyai masa kerja lebih lama dan berprestasi, tidak asal ceplok untuk memenuhi kouta saja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan agar uji sertifikasi berjalan sukses, dalam arti tingkat kelulusan yang tinggi, maka dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut: (1). Kepala sekolah membuat tim internal penilai fortopolio uji sertifikasi guru (2). Kepala sekolah meminta semua guru untuk mengisi fortopolio uji sertifikasi guru (3). Tim penilai uji sertifikasi sekolah memberikan penilaian fortopolio sertifikasi yang telah disusun guru (4). Tim penilai uji sertifikasi sekolah bersama-sama kepala sekolah menetapkan guru-guru yang berpeluang lulus uji sertifikasi (5). Kepala sekolah menetapkan urutan guru yang akan diikutkan uji sertifikasi berdasarkan masa kerja guru dan hasil penilaian Tim
internal yang berpeluang untuk lulus uji sertifikasi.

Jika kelima hal di atas dilakukan, maka kita optimistis tingkat kelulusan peserta uji sertifikasi akan meningkat, bahkan tidak menutup kemungkinan semua peserta akan lulus uji sertifikasi guru, sehingga tidak ada lagi timbul anggapan bahwa guru di daerah lebih buruk dari guru yang ada diperkotaan.

 

 

 


 

MEMIMPIN DENGAN HATI

Ciri-ciri yang dapat dikenali dari kiprah seorang pemimpin adalah bagaimana seorang pemimpin tersebut dalam menangani suatu permasalahan yang dihadapinya, kita sadar bahwa seorang pemimpin tidak luput dari setiap sudut permasalahan yang selalu menghampiri diri seorang pemimpin. Dan kelebih pemimpin dari orang biasa adalah dia selalu lebih dulu cepat dalam menyelesaikan masalah dari pada orang lain.

Cara berpikir seorang pemimpin selalu menerima dengan tangan terbuka setiap umpan balik yang diberikan kepada nya, dan ia selalu menghargai setiap pesan dari semua pesan yang di bawa oleh pembawa pesan, seorang pemimpin tersebut selalu memberikan reward kepada sipembawa pesan, meskipun isi pesan tersebut selalu tidak menyenangkan seperti “anda tidak menepati janji” atau “ini tidak adil”. Banyak orang merasa tidak mendapatkan umpan balik seperti yang diharapkan karena sipembawa pesan telah merasa takut lebih dahulu untuk menyampaikannya, seorang pemimpin biasanya jauh lebih tahu dan menghargai dari pada (ABS) asal bapak senang.

Seorang pemimpin yang memimpin dengan hati akan sangat cepat menyadari saat-saat ketika mereka melakukan sesuatu yang tidak semestinya, seorang pemimpin tersebut mampu untuk mengatakan hal seperti “saya sadar bahwa saya telah melanggar perjanjian kita” dan ” sebetulnya saya tidak mampu untuk menepati janji dan merealisasikan itu semua…. “ walaupun mereka melakukan lebih sedikit kesalahan dari pada yang dilakukan orang pada umumnya, pemimpin yang dihargai adalah mereka lebih cepat mau mengakui seperti “saya telah berbuat salah” atau “kelihatannya saya salah besar dalam menilai masalah tersebut.” Orang yang rasa percaya dirinya rendah tidak akan mampu mengakui kesalahan atau mau dihukum karena telah melanggar perjanjian, dan mereka selalu merasa diri merekalah yang benar.

Seorang pemimpin yang memimpin dengan hati, tidak membuang-buang waktu dengan menyesali kesalahannya, mereka menggunakan energi mereka untuk mencari penyelesaian (solusi). Seringkali penyelesaiannya begitu sederhana, misalnya saja mengatakan hal yang sebenarnya, tapi adakalanya seorang pemimpin akan merasa tidak enak dalam menghadapi perasaan tidak enak dari orang-orang yang dibohongi. Perjanjian tersebut mungkin bisa dirundingkan kembali atau permintaan maaf harus disampaikan kepada pihak bawahan tempat seorang pemimpin tersebut berjanji.

Dalam menghadapi situasi tersebut diatas seorang pemimpin dengan hati sudah harus menyiapkan langkah-langkah sebagai berikut, yakni ;

Langkah pertama : Hadapi apa yang terjadi dengan sikap sportif

Penyebab utama terjadinya bencana permasalahan dalam suatu organisasi yakni adalah seorang pemimpin berpaling kearah lain, dan tidak langsung menghadapi permasalahan sejak dini dan mencari solusi secepatnya. Dalam arti kata tak usah membela diri, berdalih, mencari-cari kebenaran, dan menghindar. Dan seorang pemimpin harus mengakui saja bahwa ia telah berbuat curang.

Langkah kedua : Terima situasi tersebut

Kebanyakkan dari pemimpin kita belum mampu benar-benar mengakui kesalahan karena adanya dua hambatan yakni :

  1. Pemimpin sering tidak mau menerima aspek yang tidak baik atau yang tidak indah pada saat tersebut.
  2. Banyak pemimpin mengira bahwa jika mereka menerima sesuatu, mereka akan terbelenggu oleh hal tersebut.

Ada sebuat paradoks jika seorang pemimpin menerima suatu masukan atau pesan yang kadang kala tidak mengenakkan, berarti ia memulai proses perubahan. Dan membuat menjadi terbolak balik, sehinggan menuju suatu perubahan yang utuh dalam hal tersebut.

Langkah ketiga : Menentukan pilihan

Pemimpin tahu bahwa dengan tidak memilih berarti ia akan terjebak dalam kebinggungan.

Langkah keempat : Bertindaklah

Langkah keempat ini akan membebaskan diri seorang pemimpin, langkah ini meminta pemimpin untuk memusatkan perhatian pada tindakan.

Sejalan dengan peningkatan kemampuan seorang pemimpin untuk mengatakan yang sebenarnya dan mematuhi perjanjian, akan didapati nantinya seornag pemimpin yang disukai dan disenangi oleh bawahan dimana saja dia berada.

15 Kekeliruan Pemahaman tentang BK

Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Dalam hal ini, Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling, baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling, tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah :

1. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benar-benar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari.

Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya, namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata, seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling), perencanaan individual, pelayanan responsif, dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya.

Begitu pula, Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen), yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1).

2. Menyamakan
pekerjaan
Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater.

Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater, yaitu sama-sama menginginkan konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya, melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya, baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien, mendiagnosis, melakukan prognosis atau pun penyembuhannya.

Kendati demikian, pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat, serta teknis medis lainnya, sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/psikis, modifikasi perilaku, pengubahan lingkungan, upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling.

3. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental.

Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa, khususnya dalam rangka pelayanan responsif, tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu.

Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana, yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif, baik untuk kepentingan pencegahan, pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan)

4. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja.

Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja, namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama, melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.

5. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”.

Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. Masalahnya, tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal).

6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja.

Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan, menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas, pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas, bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya.

7. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan.

Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif, seringkali masalah seseorang dianggap sepele, namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. Begitu pula sebaliknya, suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten

8. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.

Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan di sekolah.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian, bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah.

Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal, konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa, tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Konselor adalah kawan pengiring, penunjuk jalan, pemberi informasi, pembangun kekuatan, dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan.

9. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat.

Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal.

10. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain

Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi, melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya,sosial,dan lingkungan. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Di sekolah misalnya, masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua,siswa,guru,dan piha-pihak lain; terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja .Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran, orang tua, dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing, khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar.

Namun demikian, konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri, tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan, seperti “praktik pribadi”, artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Pekerjaan yang profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli.

11. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain harus pasif

Sesuai dengan asas kegiatan, di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien,harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.Lebih jauh, pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Di sekolah, guru pembimbing memang harus aktif, bersikap “jemput bola”, tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Sementara itu, personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu.

Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

12. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja

Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Jawaban “benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. Sedangkan jawaban “tidak”, jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.

13. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien

Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Bahkan sering kali terjadi, untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda, sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Pada dasarnya.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.

14. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi

Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Dengan kata lain, ada dan digunakannya instrumen (tes.inventori,angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.Oleh sebab itu, konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan

15. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.

Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul, lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal, begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian, atau bahkan beberapa tahun kemuadian.. Misalkan, siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter.

Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno.2003.

KONSEP KONSELING TRAUMATIK

Daerah dan negara kita sering sekali dilanda bencana baik itu bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan yang dilakukan oleh manusia, maupun oleh alam itu sendiri, orang-orang yang berada dan mengalami musibah tersebut tentu sedikit banyak mengalami trauma dengan bencana yang baru saja dialaminya. Oleh karena itu konseling traumatik membantu para klien yang mengalami trauma tersebut.

Seperti kita ketahui bahwa konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersipat membantu, makna bantuan itu sendiri, yaitu sebagai upaya untuk membantu orang lain agar mampu tumbuh kearah yang dipilihnya sendiri, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya. Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi fasilitatif yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien. Sementara itu, tujuan konseling mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan.

Sedangkan kita ketahuai bahwa Konseling traumatik adalah upaya klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.

Konseling traumatik sangat berbeda dengan konseling biasa dilakukan oleh konselor, perbedaan ini terletak pada waktu,
fokus, aktifitas, dan tujuan. Dilihat dari segi waktu konseling traumatik sangat butuh waktu yang panjang dari pada konseling biasa, kemudian dari segi fokus, konseling traumatik lebih memerhatikan pada satu masalah, yaitu trauma yang dirasakan sekarang. Adapun konseling biasa, pada umumnya suka menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya, seperti latar belakang klien, proses ketidak-sadaran klien, masalah komunikasi klien, transferensi dan conter transferensi antara klien dan konselor, kritis identitas dan seksualitas klien, keterhimpitan pribadi klien dan konflik nilai yang terjadi pada klien.

Dilihat dari segi aktifitas, konseling traumatik lebih banyak melibatkan banyaknya orang dalam membantu klien dan yang paling banyak aktif adalah konselor, konselor berusaha mengarahkan, mensugesti, memberi saran, mencari dukungan dari keluarga dan teman klien, menghubungi orang yang lebih ahli untuk referal, menghubungkan klien dengan ahli lain untuk referal, melibatkan orang atau agen lain yang kompeten secara legal untuk membantu klien, dan mengusulkan berbagai perubahan lingkungan untuk kesembuhan klien.

Dilihat dari segi tujuan, konseling traumatik lebih menekankan pada pulihnya kembali klien pada keadaan sebelum trauma dan mampu menyesuaikan diri dengan keadaan diri dengan keadaan lingkungan yang baru. Secara lebih spesifik, kottman (1995) Menyebutkan, bahwa tujuan konseling traumatik adalah :

  1. Berpikir realistis, bahwa trauma adalah bagian dari kehidupan
  2. Memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi yang menimbulkan trauma
  3. Memahami dan menerima perasaan yang berhubungan dengan trauma, serta
  4. Belajar ketrampilan baru mengatasi trauma.

Sementara itu ada empat ketrampilan yang harus dimiliki konselor dalam konseling traumatik, yaitu ;

  1. Pandangan yang realistis
  2. Orientasi yang holistik
  3. Fleksibelitas, serta
  4. Keseimbangan antara empati dan ketegasan

Proses konseling traumatik terlaksana karena hubungan konseling berjalan dengan baik, proses konseling traumatik adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna bagi klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula bagi konselor yang membantu mangatasi trauma kliennya tersebut.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.