Dunia pendidikan kita didaerah kita memang bagus. Tetapi ukuran itu mungkin hanya untuk klaim kepada diri sendiri, tidak untuk membandingkan dengan daerah lain yang menurut standar nasional bagus. Namun bila dibandingkan dengan ukuran daerah lain mungkin kita harus antri dulu untuk masuk nominasi kategori bagus. Namun demikian, peluang untuk mengejar ketertinggalan masih terbuka lebar. Melalui perbaiki fasilitas pendidikan dan kualitas pendidik, dan tidak kalah penting adalah keseriusan dari berbagai pihak dalam meningkatan kualitas dan mutu pendidikan, sehingga dalam kegiatan sehari-hari yang paling kecil sekali pelaksanaan proses belajar mengajar sudah seharusnya perlu diperhatikan, sehingga dalam kualitas dan mutu pendidikan tidak akan memakan waktu yang sia-sia dalam proses peningkatan pendidikan didaerah kita ini.

Tingkat pendidikan suatu daerah dan Negara, menentukan tentang daerah dan Negara tersebut. Mungkin ukuran yang lazim di pakai adalah, dalam masalah kualitas pemimpin negeri ini. Dikarenakan dalam meningkatan kualitas pendidikan yang baik ini berawal dari para pemimpin daerah yang memperhatikan pendidikan tidak saja memandang dari setenggahnya saja akan tetapi pemimpin kita haruslah memperhatikan sepenuh hati dalam dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap peningkatan pendidikan tersebut, dan ini akan melahirkan generasi dan pemimpin yang baik dan jujur dalam menjalankan daerah dan Negara ini.

Sebaliknya, bila dalam menjalankan urusan Pemerintahan tidak jelas, bisa jadi ukuran pendidikan kita pun perlu di pertanyakan. Jangan sampai Pemerintah sibuk menyalurkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bahkan dana-dana yang membuat kebutuhan sekolah terpenuhi oleh sekolah , tetapi sampai ke bawah justru orang yang sibuk tentang bagaimana membagi uang tersebut dengan memotong untuk kepentingan pribadi masing-masing.

Karena dunia pendidikan menjadi tempat untuk menuntut ilmu, mencetak kaum Intelektual dan membentuk generasi yang bertanggung jawab demi kepentingan bangsa. Hanya melalui pendidikan yang berkualitaslah, kebangkitan daerah ini dapat diraih.

Salah satu pilar kemajuan daerah adalah tersedianya sumber daya manusia (SDM) yang handal di dalam daerah. Kebangkitan perekonomian sebuah daerah sangat di tentukan oleh tingkat pendidikan di sebuah daerah. Sehingga menjadi tugas Pemerintah daerah ke depan agar terlibat langsung dalam pencerdasan daerah melalui peningkatan sarana pendidikan dengan standar nasional. Dalam proses belajar dan mengajar pun perlu melibatkan tenaga pengajar yang berkualitas dan terjamin.

Perlu di sadari bahwa era globalisasi kini mulai memasuki segala bidang dan akan membuat sebuah daerah kewalahan bila sumber daya manusia (SDM) yang ada tidak mampu menghadapi arus globalisasi tersebut. Sudah menjadi tugas Pemerintah daerah dan seluruh komponen yang ada didaerah, untuk terus menggerakkan sektor pendidikan agar mampu melahirkan SDM yang siap bersaing dalam keganasan arus globalisasi.

Daerah ini membutuhkan SDM yang berkualitas bukan mengandalkan kuantitasnya saja. Mengandalkan kuantitas saja tanpa kualitas berarti sama saja dengan memperbanyak pengangguran di masa depan yang berada didaerah ini. Sehingga SDM didaerah yang berkualitas akan mempercepat pembangunan daerah di masa depan.

Pendidikan gratis seharusnya bukan hanya sampai di setiap tingkatan yang ada didaerah saja, akan tetapi bagaimana mengusahakan sampai ke perguruan tinggi yang kesemua itu disubsidi atau dibiayaan oleh pemerintah daerah. Kita berharap agar kedepan semua anak-anak daerah kita ini, minimal selesai pendidikan tingkat sarjana (S1). Agar generasi yang berwawasan luas dan berkualitas akan mampu membangkitkan daerah ini dari keterpurukan akibat krisis multidimensi yang menimpa kita semua.

Untuk menghasilkan SDM daerah yang berkualitas melalui pendidikan gratis, di perlukan sarana pendidikan yang memadai dan sesuai dengan standar pendidikan yang bermutu, seperti laboratorium, perpustakaan, tenaga pengajar yang berkualitas dan ruangan pendidikan yang nyaman. Pendidikan harus mencerahkan, jangan mendoktrin dan menjerumuskan.

Kedepan, pemerintah daerah harus punya target agar generasi yang kita cintai tidak tergilas oleh arus globaliasasi. Satu hal yang perlu di ingat, yaitu meningkatkan SDM didaerah dalam negeri agar dapat mengolah Sumber Daya Alam (SDA) di daerah sendiri pula. Jangan sampai SDA kita di olah oleh orang dari daerah lain sehingga mereka yang beruntung, kita gigi jari (rugi). Dalam hal ini, kemampuan dalam bidang teknologi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk di kuasai oleh generasi kita yang ada didaerah.

Kemampuan dalam bidang teknologi tidak terlepas dari keberhasilan Pemerintah daerah dalam pembangunan dunia pendidikan yang berkualitas dan siap saing. Sarana pendidikan yang mendukung akan mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli yang akan berorientasi pada pembuatan teknologi-teknologi baru demi percepatan pembangunan yang ada didaerah.

Penting pagi pemerintah daerah agar memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang punya kemampuan, dapat di beri beasiswa keperguruan tinggi yang berkualitas bahkan kalau bisa keluar negeri. Sehingga kualitas lulusan lebih terjamin. Disamping itu kontrol yang ketat dalam dunia pendidikan sangat perlu untuk mengetahui kesulitan, kebutuhan anak didik dan kendala-kendala lainnya yang menghambat anak-anak dalam memperoleh ilmunya di dunia pendidikan.

Laboratorium dan perpustakaan lengkap yang dibutuhkan oleh anak didik perlu tersedia di semua wilayah di pelosok daerah ini. Perpustakaan gratis mulai dari kota sampai ke desa-desa, perlukan di sediakan untuk membangkitkan minat baca rakyat. Karena melalui minat baca yang tinggi, maka akan lahir generasi yang berilmu pengetahuan dan berwawasan luas.

Karena bila SDM di daerahi ini rendah, maka kita mengkhawatirkan nasib generasi mendatang akan menjadi budak di daerah sendiri. Sehingga perlu peningkatan kemampuan di daerah. Misalnya, bagaimana menargetkan agar minimal semua lulusan SMP baik di kota maupun di desa mampu berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan dan mampu menggunakan Komputer minimal Microsoft Office. Sehingga kita dapat menyaingi kemampuan daerah-daerah lain yang ada di negara yang kita cintai ini. 

Optimisme dalam hidup ini bukan hanya angan-angan semata. Tetapi bagaimana optimisme itu ikut menggerakkan kita yang ada di daerah ini, agar lebih giat lagi dalam belajar, bekerja, berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa berdoa. Sehingga tidak cepat memvonis diri sendiri bahwa diri kita dan daerah kita ini, sebagai orang yang tidak cerdas atau mengklaim diri  ditakdirkan Tuhan sebagai orang bodoh, miskin dan lain-lain.

Padahal pemikiran seperti itu hanya akan membuat kita jatuh kedalam lubang kekalahan sebelum mengalahkan kehidupan nyata. Kenapa harus menyalahkan Tuhan. Bukankah Tuhan telah berfirman kepada manusia “Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak merubah nasibnya sendiri“. Sehingga untuk merubah nasib seseorang atau sebuah daerah atau bangsa, itu tergantung pada diri sendiri, daerah, dan bangsa itu sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak mampu merubah kita. Tapi kepada Tuhan, kita hanya berdoa sambil berusaha.

Jadi kecerdasan itu bukan karena dia anak orang kaya, karena dia di lahirkan di Ibu kota. Bukan juga karena ia keturunan Profesor atau di dilahirkan di Amerika dan Eropa. Tapi semuanya kembali kepada kegigihan kita dalam berusaha sekuat tenaga agar mampu seperti mereka. Kita mampu, selama ini kita tidak menyadari kemampuan itu. Sehingga perlu sebuah pembuktian bahwa generasi daerah ini juga menyimpan manusia-manusia sekaliber, Thomas Alva Edison atau Albert Einstein baik masa sekarang maupun untuk masa depan.

Kita tak perlu minder dengan kehebatan orang yang ada di ibu kota ataukah Amerika dan Eropa, karena kita juga mampu seperti mereka, asalkan mau belajar melebihi mereka. Kita jangan hanya mampu bercita-cita setinggi langit tapi tak pernah mencapai langit seperti astronot-astronot Amerika dan Eropa. Cita-cita itu memang perlu asal jangan hanya sebatas coretan pelengkap di atas kertas atau hiasan di bibir saja tetapi perlu pembuktian.

Tetapi bagaimana cita-cita itu di ikuti dengan disiplin waktu, belajar yang giat dan berusaha tanpa mau menyerah serta tidak mengalah kepada keadaan. Jangan minder dengan mereka yang telah maju tapi minderlah karena kita malas dan tidak mau berusaha. Kemalasan itulah yang harus kita singkirkan bila ingin sebuah perubahan di daerah ini.

Apa sih hebatnya orang di kota besar ataukah Amerika dan Eropa, bukankah Tuhan sama memberikan waktu kepada kita di dunia ini. Waktu yang diberikan semuanya sama, yaitu 24 jam sehari semalam. Professor mana yang ada kelebihan waktu sampai 25 jam sehari semalam, Doctor dan ilmuwan mana yang punya waktu sampai 26 jam sehari-semalam,  semuanya sama 24 jam sehari semalam. Tapi kenapa ada yang jadi Professor, Doktor, orang bodoh dan lain-lain di dunia ini..

Berarti ada kesalahan kita dalam pembagian waktu selama ini, jika mereka lebih banyak belajar, kita mungkin lebih banyak berkeluyuran setiap hari dengan bersantai dan bersuka cita dengan alunan lagu-lagu yang menghentakkan diri. Jadi, mulai sekarang kebiasaan buruk itu perlu di tinggalkan. Disiplin waktu perlu menjadi budaya untuk bangkit dari ketertinggalan dari daerah-daerah lain di yang ada di Indonesia ini.

Seharusnya kita belajar kepada daerah-daerah maju yang kuat ekonominya, dan sejahtera rakyatnya seperti kutai kartanegara dan bali yang mengandalakan pariwisata sebagai ujung tombak bagi pendapatan daerahnya yang sama dengan visi dan misi daerah kita ini. Kecemburuan itu bukan berarti harus menjelek-jelekkan daerah sendiri. Tetapi kecemburuan itu sebagai pemicu untuk lebih giat lagi dalam belajar dan berusaha. Sehingga dapat membangun daerah ini agar menjadi maju dan berkembang, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, teknologi, pertahanan negara dan bidang lain-lain.

Melalui kecemburuan itu, kita dapat membentuk watak manusia yang ada didaerah ini yang giat belajar tanpa kenal lelah dan mau belajar dari daerah lain agar dapat menjadi daerah yang besar yang maju, kuat dan sejahtera. Jika daerah lain dapat melakukannya berarti daerah ini harus optimis bahwa dapat lebih jaya dari mereka. Kita punya potensi yang sangat besar untuk menjadi daerah yang maju di nusantara dan di segani oleh daerah-daerah yang ada di negara ini.

Tradisi belajar tanpa kenal waktu perlu menjadi kebiasaan sehari-hari di daerah ini. Seperti saran yang sering kita dengar dari mulut nenek ataukah kakek yang sedang mengasuh cucunya untuk tidur, bahwa jika kita ingin maju seperti orang, maka kita perlu belajar melebihi orang tersebut, tetapi bila kita belajar sama seperti orang tersebut, maka kita tidak dapat sejajar dengan orang itu, dikarena orang tersebut atau daerah tersebut sudah lama meninggalkan daerah kita.