Oleh : Ade Saputra,S.Pd.MM. Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 1 Sungai Penuh. Belakangan ini masyarakat dikejutkan dengan berita mengenai seorang guru yang menganiaya salah satu siswanya akibatnya siswa tersebut harus dirawat di rumah sakit, siswa dilempari kursi oleh gurunya, dan banyak lagi kekerasan yang kita lihat dan dengar dalam dunia pendidikan . Di televisi juga pernah marak diberitakan mengenai siswa yang melakukan kekerasan pada siswa lainnya, contohnya kasus IPDN, dll. Hal ini, tentunya cukup mengejutkan bagi kita. Kita tahu bahwa sekolah merupakan tempat siswa menimba ilmu pengetahuan dan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa. Namun ternyata di beberapa sekolah terjadi kasus kekerasan pada siswa yang dilakukan oleh sesama siswa, guru atau pihak lain di dalam lingkungan sekolah.

Kekerasan yang dilakukan di dalam dunia pendidikan nampaknya akan selalu berulang. Hal ini dikarenakan seluruh komponen pendidikan (peserta didik, karyawan, guru, kepala sekolah) belum banyak menyadari hakikat pendidikan sebagai sebuah proses. Proses dalam menggali potensi yang diberikan Tuhan kepada manusia sejak lahir, proses untuk bergaul dengan lingkungan yang berbeda, dan proses untuk tumbuh kembang dengan teman sebaya.

Proses mulia di atas seringkali dimaknai secara sempit oleh komponen pendidikan. Pendidikan hanya dimaknai di dalam lingkungan sekolah, pelajaran, ulangan harian, ujian kenaikan kelas dan kelulusan. Di dalamnya seringkali ada bentuk penghargaan dan hukuman. Siapa benar dan melakukan kebaikan akan mendapat hadiah atau penghargaan. Sebaliknya siapa yang salah dan melakukan tindakan yang dilarang akan mendapat hukuman.

Menurut Clanzic, hukuman dan ganjaran dalam dunia pendidikan pada dasarnya mematikan inisiatif belajar, mempengaruhi jiwa anak, dan karenanya hukuman dan ganjaran adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan menimbulkan permusuhan. (Nurul Huda, SA: 2002).

Hal ini dikarenakan komponen pendidikan seringkali memaknai hukuman sebagai hal yang negatif dan memaknai penghargaan sebagai hal yang positif. Sangat jarang ditemukan di dalam dunia pendidikan ada hukuman yang benar-benar mendidik dan membuat peserta didik sadar akan kesalahan dan tidak akan mengulangi perbuatannya.

MANUSIAWI

Hukuman yang diberikan kepada siswa banyak menyebabkan kebencian, dan dendam yang perkepanjangan, sehingga Kebanyakan hukuman yang diberikan baik oleh guru saat kegiatan belajar mengajar hanya menimbulkan kedengkian dan rasa dendam dalam diri peserta didik. Peserta didik tidak menjadi paham kesalahannya dan akan terus melakukan kesalahan itu sebagai bentuk pembangkangan terhadap guru. Dan pada akhirnya akan menimbulkan suasana belajar yang kurang kondusif dan menjemukan.

Keadaan ini tentunya tidak akan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, mempunyai kepribadian mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, sebagaimana tujuan pendidikan diselenggarakan.

Guna mewujudkan tujuan pendidikan di atas dan menekan angka kematian peserta didik di dalam dunia pendidikan kiranya komponen pendidikan perlu menelaah apa yang telah diajarkan Dorothy Law Nolte ini:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, maka ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, maka ia belajar berlaku adil.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan menemukan cinta dalam kehidupan.Begitulah anak selalu belajar dalam kehidupannya.

Petuah bijak tersebut di atas adalah bentuk pendidikan tanpa kekerasan. Komponen pendidikan harus menyadari bahwa anak adalah makhluk unik. Ia akan selalu belajar dari lingkungannya. Jika lingkungannya mengajarkan kebaikan, maka ia akan belajar kebaikan dan sebaliknya, jika lingkungannya mengajarkan kekacauan dan keburukan, maka ia akan menjadi insan yang sulit diatur.
Maka, hukuman yang selama ini selalu diartikan negatif sudah saatnya diganti dengan hal-hal yang positif.

dalam arti kata semua anak memerlukan guru yang baik, guru menentukan tujuan dan sasaran belajar,membantu dalam pembentukan nilai pada peserta didik (nilai hidup, nilai moral,nilai social), memiliki pengalaman belajar, menentukan metode atau strategi mengajar, dan yang paling terpenting adalah,menjadi model perilaku bagi siswa.

Contohnya, ketika penulis mengenyam bangku SMP dan SMA sekian tahun lalu, seringkali hukuman yang diberikan selalu menyenangkan dan membuat jera. Hukuman yang diberikan oleh guru biasanya hal-hal yang mendidik. Seperti, jika terlambat masuk sekolah, peserta didik dipersilahkan memilih hukuman membaca al-Qur’an dua juz, menulis apa yang menjadi pelanggaraan siswa tersebut,sehingga membuat tulisan siswa menjadi rapi dan bagus, atau membaca buku diperpustakaan dan menuliskannya kembali dalam bentuk resume atau makalah, kegiatan seperti ini seakan lebih menyenangkan daripada bentuk hukuman yang diartikan negative

Bentuk pendidikan ala militeristik dengan penuh makian, hinaan, celaan dan hukuman fisik sudah saatnya diminimalisir. Bentuk hukuman semacam itu hanya akan membuat peserta didik dendam dan tidak jera melakukan kesalahan. Dan pada akhirnya akan menularkan dan menjadi tradisi buruk yang akan mengancam jiwa orang lain dikemudian hari.

Dalam hal ini guru dalam proses belajar mengajar yang berhadapan dengan pola dan tingkahlaku siswa dituntut untuk bisa bersikap demokratis, ramah dan memberikan perhatian per orangan, sabar, minat luas, penampilan yang menyenangkan, adil, tidak memihak, rasa humor, perilaku konsisten, memberikan perhatian terhadap masalah anak, kelenturan (fleksibilitas), menggunakan penghargaan dan pujian, dan kemahiran yang luar biasa dalam mengajar subjek tertentu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru melakukan kekerasan pada siswanya, yaitu:

DariGuru

1. Kurangnya pengetahuan bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa.

2. Persepsi yang parsial dalam menilai siswa. Bagaimana pun juga, setiap anak punya konteks kesejarahan yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap kata dan tindakan yang terlihat saat ini, termasuk tindakan siswa yang dianggap “melanggar” batas. Apa yang terlihat di permukaan, merupakan sebuah tanda dari masalah yang tersembunyi di baliknya. Yang terpenting bukan sebatas “menangani” tindakan siswa yang terlihat, tapi mencari tahu apa yang melandasi tindakan / sikap siswa.

3. Adanya masalah psikologis yang menyebabkan hambatan dalam mengelola emosi hingga guru ybs menjadi lebih sensitif dan reaktif

4. Adanya tekanan kerja : target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi yang harus dicapai siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil yang ideal dan maksimal cukup besar.

5. Muatan kurikulum yang menekankan pada kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan kemampuan afektif (Rini, 2008). Tidak menutup kemungkinan suasana belajar jadi “kering” dan stressful, dan pihak guru pun kesulitan dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang menarik, padahal mereka dituntut mencetak siswa-siswa berprestasi.

Dari Siswa

Salah satu factor yang bisa ikut mempengaruhi terjadinya kekerasan, adalah dari sikap siswa tersebut. Sikap siswa tidak bisa dilepaskan dari dimensi psikologis dan kepribadian siswa itu sendiri. Kecenderungan perasaan bahwa dirinya lemah, tidak pandai, tidak berguna, tidak berharga, tidak dicintai, kurang diperhatikan, rasa takut diabaikan, bisa saja membuat seorang siswa clinging pada powerful , authority figure dan malah “memancing” orang tersebut untuk actively responding to his , her need meskipun dengan cara yang tidak sehat. Contohnya, tidak heran jika anak berusaha mencari perhatian dengan bertingkah yang memancing amarah, agresifitas,atau pun hukuman. Tapi, dengan demikian, tujuannya tercapai, yakni mendapat perhatian. Sebaliknya, bisa juga perasaan inferioritas dan tidak berharga di kompensasikan dengan menindas pihak lain yang lebih lemah supaya dirinya merasa hebat.
Jikalau semua guru yang ada memperhatikan dan kembali kefitrahnya dalam membina peserta didiknya maka dengan demikian semua siswa dan peserta didik tidak lagi diperlakukan semena-mena.