Oleh Ade Saputra.S.Pd.M.M, Guru SMP Negeri 1 Sungai Penuh, Sebagai Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional. Ada suasana yang sangat mengembirakan bagi kita dimana adanya wacana pemerintah Daerah dalam menerapkan sebagai kota pendidikan, dan ini dapat dijadikan sebagai agenda besar daerah ini, dalam penciptaan generasi yang lebih berkualitas. Hampir disemua institusi pendidikan sepertinya bergairah dan hidup kembali, dan ini sangat berbeda dengan yang kita rasakan sebelumnya, dimana sektor pendidikan diletakan pada nomor kedua, bahkan tidakdiperhatikan. Padahal sektor dunia pendidikan sangatlah menjanjikan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia yang akan datang, sehingganantinya melahirkan generasi baru yang lebih berkualitas.

Dalam memajukan dunia pendidikan sekarang ini tidak bisa kita pungkiri, bahwa anggaran pendidikan dan dalam pelaksanaannya haruslah sudah menjadi pemicu utama dalam peningkatan gairah peningkatan kualitas itu, baik dari pendidik maupun keluaran daripada peserta didik nantinya. Pada era otonomi daerah ini, yang sangat luas meniscayakan anggaran pembangunan di daerah diatur menurut sistem block grant yang secara leluasa dapat dipakai oleh pemerintah daerah untuk membangun daerahnya. Misalnya, berapa anggaran untuk pembangunan sektor X dan berapa untuk sektor Y sangat bergantung kepada anggota DPRD dan pemerintah daerah untuk mengatur dan menentukannya.

Karena itu, cara pandang mengenai alokasi anggaran mana yang penting dan mana yang tidak penting sepenuhnya terserah kepada para pejabat dan para politikus kita, di daerah-daerah untuk mengaturnya sendiri. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketidaksamaan cara pandang serta arah kecenderungan sikap dan apresiasi para elite di daerah itu mengenai pentingnya pendidikan. Kalaupun secara kognitif tahu bahwa pendidikan itu mahapenting, ada kekhawatiran bahwa tuntutan-tuntutan mendesak mengenai berbagai sektor yang bersifat fisik dan proyek-proyek yang menyangkut kepentingan jangka pendek jauh lebih menarik dan akan menyita perhatian lebih banyak dikalangan para pengambil kebijakan di daerah-daerah dewasa ini ketimbang soal pendidikan. Dengan alasan ingin menggenjot pendapatan asli daerah (PAD).

Karena itu, perlu dipikirkan sungguh-sungguh bahwa sektor pembangunan pendidikan di daerah-daerah di era otonomi daerah ini tidak menjadi terbengkalai. Hal itu menjadi penting karena bangsa kita telah mencanangkan pelaksanaan program wajib belajar dalam pengertian universal education untuk sembilan tahun. Karena itu, pendidikan dasar yang mencakup pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) dan tingkat (SMP) mau tidak mau harus dijamin oleh pemerintah, termasuk pemerintah daerah. Meskipun kita menganut kebijakan civil society yang mengutamakan prinsip pemberdayaan masyarakat, sukses tidaknya pelaksanaan agenda pendidikan dasar sembilan tahun itu tidak bisa diserahkan bulat-bulat kepada masyarakat. Pemerintah daerah harus dipahami wajib menyediakan anggaran yang cukup. Untuk itu, sesuai dengan prinsip negara pengurus (welfare state) yang menjadi latar belakang pemikiran ketika para pendiri bangsa kita merumuskan UUD 1945, peran pemerintah untuk mengupayakan sekuat tenaga bagi terangkatnya pendidikan menjadi sebuah institusi unggulan. Apalagi, secara imperatif anggaran pendidikan sudah dijamin dengan pagu 20% tiap tahun sesuai dengan amanat konstitusi.

Memang, jika dibandingkan dengan negara yang secara ekstrem sangat mengutamakan pendidikan, persentase yang termaktub dalam konstitusi kita masih lebih kecil. Taiwan, misalnya, secara akumulatif mematok porsi anggaran pendidikan sebesar 35% dari total anggaran pembangunan mereka di tingkat daerah. Di tingkat provinsi, anggaran pendidikan diberi porsi 25%, sedangkan di tingkat pusat 15%. Karena itu, tingkat pertumbuhan dan pemerataan pembangunan rakyat di Taiwan luar biasa berhasil.

Sementara itu, disektor pendidikan, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak diantara saudara kita sebagai pendidik belum begitu sadar dalam melaksanakan tugasnya, justru berbuat diluar kewajaran atau melanggar peraturan-peraturan yang pernah dibuat untuk memberikan kontribusi yang besar kepada peserta didik kita, sehingga nantinya dapatlah kita perkirakan bagaimana alhasil dari kualitas peserta didik yang demikian. Kita sadar masih banyaknya opini yang berkembang ditengah masyarakat kita, dimana orang-orang selalu bertanya, mengapa para pendidik kita masih enggan meninggalkan budaya lama, yang sama-sama kita ketahui sangat merugikan bagi perkembangan dan keluaran sumber daya manusia peserta didik yang berkualitas yang dibutuhkan oleh daerah dan negara ini. Budaya-budaya lama yang masih sangat dipertahan dan sangat merugikan bagi masyarakat banyak antaranya adalah :

  1. Budaya korupsi yang belum menampakkan penurunan malah belakangan ini makin menunjukakan peningkatan dengan berbagai metode yang diperhalus di dunia pendidikan kita, seperti hanya datang diwaktu jam mengajar saja, sementara seorang peserta didik harus sudah selalu aktif berada di sekolah mulai Jam 07.30 sampai jam 12.30, ditambah lagi guru yang sudah sertifikasi tentu lebih dibutuhkan tanggung jawabnya yang lebih tinggi lagi.
  2. Budaya menonjolkan kepentingan pribadi dan golongan dengan mengorbankan idealisme hidup yang dimiliki oleh pendidik itu sendiri, dalam mendidik peserta didik yang berkualitas.
  3. Budaya melecehkan dan tidak menghargai prestasi orang lain, dimana peserta didik kita tidak terbiasa menghargai prestasi orang lain, melainkan malah saling menyindir atau saling menyalahkan ketimbangkan menonjolkan kompetensi pemecahan masalah.

Sedangkan menurut Payne Dalam Uyung Sulaksana (2003)” kekuatan budaya dapat diukur dari sejauhmana budaya tersebut dianut oleh semua anggota dan sejauhmana organisasi mempercayainya, semakin intens budaya organisasi, semakin kuat pengaruhnya pada semua tingkatan dimana budaya memanifestasikan diri, yaitu mempengaruhi tak sekedar sikap bawahan namun juga nilai-nilai, asumsi dasar dan keyakinan mereka yang ada di organisasi tersebut. Hal ini mungkin kurangnya perhatian kita dalam menyikapi bagaimana kita sebagai pendidik yang berada dalam organisasi tersebut menyikapinya dalam memperbaiki budaya yang berkembang didunia pendidikan, yang sedang hangatnya mencanangkan sebagai Kota Pendidikan.

Kita sadari bahwa tenaga pendidikan yang direkrut oleh berbagai institusi mereka adalah berada dilevel kedua dari pada institusi diluar dunia pendidikan, sehingga wajar kalau keluaran yang kita harapkan dalam dunia pendidikan tersebut juga dihasilkan adalah level kedua bahkan yang terakhir, ini adalah tugas kita dalam menanamkan bagaimana agar dunia pendidikan kita yang sedang dicanangkan sebagai Kota pendidikan, untuk lebih bisa berbenah diri dalam menyiapkan baik itu sumber daya manusia Pendidik, Maupun kualitas lulusan peserta didik nantinya, bahkan bisa bersaing dengan keluaran lulusan daerah lain.

Kita sadar bahwa karakteristik orang-orang yang berada didunia pendidikan yang sedang dicanangkan ini, haruslah orang-orang yang berprestasi tinggi (high achievers), sementara kita ketahui bahwa orang-orang yang berprastasi tinggi memiliki tiga macam ciri umum yakni ;

  1. Preferensi mereka untuk mengerjakan tugas dengan derajat kesulitan moderat.
  2. Dimana mereka menyukai situasi-situasi dimana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri bukan atas kemujuran.
  3. Mereka menginginkan lebih banyak umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka .

Dan kita sadari bahwa budaya tersebut diatas yang menginginkan prestasi tinggi yang harus sudah tumbuh dan berada ditengah-tengah kita sebagai pendidik, dengan demikian dapatlah kita simpulkan bahwa, berdasarkan ciri tersebut diatas jikalau kita jadikan suatu budaya yang berkembang di dunia pendidikan merupakan entrepreneur yang berhasil. Dalam hal ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ;

  1. Betapa sekolah tidak memiliki daya tarik lagi untuk menarik generasi muda untuk sebagai tempat berkreatifitas.
  2. Betapa sekolah tidak lagi memiliki minat atau gairah dan ketertarikan terhadap kegiatan sekolah yang selalu monoton.

Sementara kita ketahui bahwa kalau saja
dunia pendidikan kita ini, mau berbenah diri dalam menyikapi tujuan dari sebuah kota pendidikan boleh jadi, kita tidak pernah lagi melihat keberhasilan dari individu yang dilahirkan dari dunia pendidikan sebagai sebuah wacana, dan yang harus sudah dipersiapkan aspek-aspek yang sangat prinsip dalam dunia pendidikan yakni membenahi dari pada Budaya pendidik yang kurang berkualitas.

Dalam artikata bahwa reorientasi, reposisi dan reorganisasi kelembagaan dunia pendidikan didaerah ini sudah harus dipikirkan, agar nantinya sekolah sebagai sentra pendidikan bisa manarik minat para peserta didik (generasi muda), untuk ikut aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan sekolah sebagai sentralnya.

Disamping itu dunia pendidikan tidak lagi terlalu elergi membicarakan isu-isu “kontemporer” yang sesuai dengan perkembangan dan kemajuan zaman seperti “Proverty reduction, Sosial transformation, Economic Liberation, Political Identity, Nation Integration, Civic soscaity” dan sejenisnya.

Dari urai tersebut diatas jelas dunia pendidikan dimana Sekolah sebagai sentranya, secara umum dapat kita uraikan sebagai berikut ;

  1. Dunia pendidikan dan Sekolah sebagai ujung tombaknya, tidak hanya bermanfaat untuk tempat proses belajar mengajar saja, namun juga dapat mampu mengerakkan kesejahteraan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.
  2. Sekolah dapat menimbulkan efek Psikologis dalam arti kata keberartian moral.
  3. Sekolah harus sudah dipikirkan agar dibangun dan dipelihara dengan paripurna artinya “performance yang asri, indah dan menarik untuk dikunjungi dan sekaligus “comfort” atau nyaman bagi peserta didik”.
  4. Dalam upaya pembangunan sarana dan prasarana sekolah tersebut, diperlukan adanya kesadaran yang sangat mendalam dari setiap diri masyarakat yang peduli pendidikan, dalam memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan yang ada didaerah ini baik materil maupun suprituil.

Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan kembali kapasitas Komite sekolah, dan diperlukakannya penguatan kapasitas kepengurusannya, sebab banyak kita jumpai selama ini, komite sekolah itu seakan-akan hanya mengurus bagaimana pengadaan sarana prasarana saja akan tetapi lebih dari pada itu yang diharapkan dalam keperanannya. Agar juga ikut menarik minat dalam peserta didik senang dan menyenangi sekolah sebagai ajang peningkataan kreatifitas.

Dalam pemecahan masalah atau solusi dalam menghadapi permasalah yang dihadapi tersebut, diantaranya;

Pertama, Dunia pendidikan dan sekolah sebagai sentranya, tidak menepik bahwa orang tua yang berperan dirumah agar menumbuhkembangkan agar peserta didik mau ikut mengembang kreatifitasnya di sekolah.

Kedua, para peserta didik aktif dan rajin sepanjang ada kegiatan di sekolah dikarena kegiatan tersebut, mendekati dari dunia perkembangan jiwa peserta didik tersebut.

Ketiga, mereka peserta didik tidak aktif setelah kegiatan itu berlangsung dikarenakan mereka menganggap bahwa sekolah tidak untuk tempat memacu kreatifitas mereka.

Walau kita tahu bahwa apa yang diterapkan sistem pendidikan didaerah kiata adalah pendidikan yang pro Neoliberal (dengan komersialisasi diberbagai infrastruktur dan kurikulum yang sarat nilai-nilai individualistik), dan walaupun penerapan tersebut juga mampu ditutupi oleh konsep yang seakan-akan pro rakyat (dengan anggaran minimal 20% dari APBN), namun itu belumlah cukup untuk mendeklarasikan sistem pendidikan yang ada didaerah ini, untuk mampu menjalankan fungsinya yang terhakikat.

Solusi sistem pendidikan dizaman yang penuh ketimpangan, kemiskinan dan keserakahan ini tidak lain adalah sistem pendidikan progresif, yaitu sistem pendidikan yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak manusia sebagai mahluk yang paling beradab. Sistem pendidikan yang demikian bersifat terus maju dengan melekatkan terus konsep manusia sebagai tujuannya. Sistem pendidikan yang demikian tidaklah memecah konsep dari sistem penerapannya, melainkan melekat satu dengan yang lainnya.