PENDIDIKAN “SEKARANG” dan “MASA DEPAN NEGERI”

Ade Saputra.S.Pd.,M.M. Guru SMP negeri 1 Sungai Penuh
To say is easy, to do is difficult, to understand is more difficult, but to make one understand is the mostdifficult

Berkata itu mudah, bekerja itu sulit, mengerti itu sulit, tetapi membuat seseorang mengerti adalah yang paling tersulit”.

Dunia pendidikan kita di negeri ini memang bagus. Tetapi ukuran itu mungkin hanya untuk klaim kepada diri sendiri saja, tidak untuk membandingkan dengan negeri lain yang menurut standar nasional bagus. Namun bila dibandingkan dengan ukuran negeri lain mungkin kita harus antri dulu untuk masuk nominasi kategori bagus. Namun demikian, peluang untuk mengejar ketertinggalan masih terbuka lebar. Melalui perbaikan fasilitas pendidikan dan kualitas pendidik, dan tidak kalah penting adalah keseriusan dari berbagai pihak terutama ’decision maker’ dalam meningkatan kualitas dan mutu pendidikan, sehingga dalam kegiatan sehari-hari yang paling kecil sekali pelaksanaan proses belajar mengajar sudah seharusnya perlu diperhatikan, sehingga dalam kualitas dan mutu pendidikan tidak akan memakan waktu yang sia-sia dalam proses peningkatan pendidikan di negeri kita ini.

Semua orang tahu bahwa, pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan “manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik”.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan tinggi.

Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negeri agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.
Mempersiapkan pendidikan generasi muda sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang generasi muda bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
Dalam rangka merealisasikan `learning to know`, Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.
‘Learning to do’ (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.
Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari negeri tempat dilangsungkan pendidikan itu. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan negeri setempat.
‘learning to be’ (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal.
Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses “learning to live together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tertentu saja.
Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap peserta didik yang dituntut oleh negeri ini, kepribadian dan moral manusia negeri ini pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia negeri yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat secara nasional di era globalisasi ini.
Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini, khususnya di kabupaten/kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur-unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu: (1) Bagaimana kondisi gurunya? (persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial-personal, tingkat kesejahteraan); (2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat ‘decision maker’ pendidikan dinegeri ini?; (3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran); (4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?; (5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?; (6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi); (7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?.
Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, dan yang paling terpenting adalah pembenahan personil pengelola pendidikan itu sendiri, yang muaranya nanti berbias pada menumbuhkembangkan sebuah konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis, dan mandiri dalam dunia pendidikan di negeri ini. Disamping itu perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di negeri ini, yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah dan kota, misalnya kelompok pakar, himpunan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat di negeri ini, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.